Spesialist Umrah PRIVATE; Layanan Berkwalitas, Terbaik & Profesional

Hikmah Sa’i, Belajar Dari Siti Hajar Saat Menjalani Sa’i

Kategori : Umrah, Haji, Ditulis pada : 04 Februari 2025, 22:42:43

UMRAH NYAMAN & MEMUASKAN DENGAN LAYANAN PRIVATE SYARAH TRAVEL

Membahas mengenai ibadah haji dan umrah tentunya sangat menarik bagi kaum muslimin, apalagi bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah ke tanah suci. Banyak hikmah yang dapat Anda petik dari perjalanan ibadah haji dan umrah. Selain menambah spiritualitas Anda, Anda bisa memaknai rangkaian ibadah yang Anda jalani ketika di Baitullah.

Terutama ketika menjalankan rukun-rukun haji dan umrah, diantaranya adalah sa’i. Sa’i adalah rukun ketiga selepas ihram dan thawaf. Serupa dengan rukun-rukun yang lain, sa’i mempunyai karakteristik khusus dalam pelaksanaannya. Istimewanya lagi, Anda bisa mengambil hikmah dari sejarah mengapa sa’i jadi rukun yang tak boleh Anda lewatkan.

16.jpg

Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash

Menurut bahasa, sa’i artinya usaha. Sedangkan rukun sa’i yang kita kenal artinya berjalan cepat bolak-balik sebanyak 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa, diawali dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwa.

Jarak antara bukit Shafa dan Marwa yaitu sejauh 400 meter, jadi total jarak yang Anda tempuh  kurang lebih 3 km apabila bolak-balik sebanyak 7 kali. Tentu saja, Anda wajib memiliki persiapan kesehatan tubuh sebelum melaksanakan rukun ini. Misalnya, berolahraga secara teratur seperti berjalan berapa langkah per hari, jogging atau lari setiap pagi, atau lainnya yang dapat menambah kekuatan fisik Anda. Jadi fisik Anda jauh lebih stabil saat menunaikan rukun haji dan umrah seperti sa’i.

Sejarah Rukun Sa’i

Jika melihat sejarahnya, rukun sa’i ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk pindah dari Palestina ke lembah tandus bernama Makkah. Saat itu, adalah hal yang berat untuk Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail kecil di tanah yang gersang nyaris tanpa kehidupan di sana.

Siti Hajar hanya pasrah berjalan dibelakang suaminya, pun saat Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya di tempat tersebut. Siti Hajar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bolak-balik ia menanyakan pada Nabi Ibrahim yang enggan menjawab. Akhirnya ia bertanya, “Hendak kemanakah Engkau, wahai Ibrahim?” Namun Nabi Ibrahim tetap diam.

Lalu Siti Hajar bertanya, “Kepada siapakah kami ditinggalkan di lembah ini? Apakah Allah SWT yang memerintahkanmu, wahai Ibrahim?” Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, Allah yang memerintahku.” Dengan wajah yang bahagia kemudian ibunda Ismail menjawab, “Laa Yudhoiyyuna ya Allah,” yang artinya ‘Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.

Nabi Ibrahim pun pergi ke Palestina. Meninggalkan Siti Hajar dan anak lelakinya di lembah tandus tersebut demi ketaatannya kepada Allah SWT. Ia mengembalikan segala urusan kepada Allah. Siti Hajar, sebagai istri yang shalihah juga taat kepada Allah SWT yakin bahwa dirinya akan ditolong oleh Allah.

Selama berhari-hari ia berusaha untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang ia bawa. Sampai suatu hari perbekalannya sudah tak ada lagi, Ismail kecil juga terus menangis karena air susunya tidak keluar. Lalu, Siti Hajar kesana kemari mencari air di antara dua bukit yaitu bukit Shafa dan bukit Marwa.

Siti Hajar berjalan cepat dari bukit Shafa ke bukit Marwa tanpa tahu di mana letak sumber air, hanya fatamorgana yang tampak. Ia bolak-balik sebanyak 7 kali, sambil terus memohon kepada Allah, yakin Allah akan datangkan pertolongan kepadanya. Tentu saja, Allah memberikan pertolongan-Nya di saat yang tepat.

diduga, Siti Hajar telah berjalan bolak-balik Shafa dan Marwa, akan tetapi Allah justru hadirkan sumber mata air di bawah kaki kecil Ismail yang menendang-nendang, Sumber air tersebut sangat melimpah, bahkan sampai hari ini masih bisa Anda temuki yang dikenal dengan Air Zam-zam. Sungguh luar biasa, apabila Allah telah menghendaki apapun bisa saja menjadi kenyataan.

pexels-pixabay-221189.jpg

Foto oleh Pixabay dari Pexels

Nama Zamzam juga memiliki kisah, disebut air zamzam sebab sumber air tersebut terus terpancar tiada henti bahkan diumpamakan kota Makkah akan tenggelam bila hal tersebut terus terjadi. Maka, Siti Hajar berkata “Zamzam, zamzam!” yang artinya, “Kumpullah, kumpullah!’ sehingga mata air tersebut tetap memancar namun tidak berlebihan.

Hikmah Sa’i

Belajar dari Siti Hajar, banyak sekali hikmah yang dapat Anda ambil dari rukun sa’i. Berbagai nilai-nilai positif yang bisa Anda laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut hikmah yang dapat Anda pelajari:

Belajar Tentang Iman

Siti Hajar adalah salah satu hamba yang istimewa di hadapan Allah karena keimanannya. Ini terbukti dari reaksi beliau ketika Nabi Ibrahim menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah karena perintah Allah SWT. Ia juga yakin bahwa Allah tak akan menelantarkannya, walaupun secara kasat mata ia tinggal di tanah yang gersang saat itu.

Bersikap Tawakkal

Siti Hajar juga memperlihatkan betapa ia sangat tawakkal kepada penciptanya. Berbeda dengan pasrah, tawakkal merupakan sikap menyerahkan segala apa yang terjadi menurut dengan kemauan Allah. Oleh karena itu, dalam sikap tawakkal juga ada peran ikhtiar Siti Hajar di dalamnya. Tugas manusia adalah berikhtiar, tapi soal keputusan Allah yang menentukan. Sehingga tetap bergantung kepada Allah sebagai satu-satunya pemberi pertolongan dan Yang Maha Berkehendak.

Mendahulukan Ikhtiar

Seperti pemaparan di atas, tawakkal harus disertai dengan usaha. Ibunda Siti Hajar memberi contoh bagaimana ia tak berputus asa menemukan sumber air antara bukit Shafa dan Marwa. Ia terus bergerak tanpa henti, diiringi keimanan dan sikap tawakkalnya untuk terus berusaha. Sehingga Allah datangkan bantuan mata air zamzam di bawah kaki Ismail kecil.

Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, Anda boleh berusaha dengan cara apapun selama itu dengan jalan yang diridhoi Allah. Akan tetapi, terkadang Allah hadirkan penyelesaian dari arah yang tidak disangka-sangka. Tak harus dari apa yang Anda harapkan, tapi tetap meyakini bahwa itulah yang terbaik versi Allah.

Ikhlas

Terakhir, dari rukun sa’i Anda bisa belajar tentang keikhlasan. Bagaimana Siti Hajar sangat ikhlas menjalani ketetapan takdir yang Allah berikan, taat kepada perintah-Nya dengan ikhlas tanpa keluhan saat ditinggalkan Nabi Ibrahim, ikhlas membersamai Ismail, dan seterusnya. Tanpa adanya rasa ikhlas, akan sulit rasnya menerima ketetapan Allah, karena sifat manusia yang tak pernah puas.

Nah, itulah hikmah rukun sa’i yang dapat Anda pelajari dari kisah Siti Hajar. Semoga bisa menambah keimanan Anda, serta semakin bersemangat saat menjalankan ibadah haji dan umrah. Semoga bermanfaat!

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id